Anggapan yang salah tentang Linux

16 09 2008

Saya sudah lama menggunakan produk Microsoft ®, dan sudah menikmati berbagai kenyamanannya termasuk game-game-nya, kecuali hal yang satu ini: bayar. Berawal ketika istri mengenalkan saya dengan Ubuntu, seketika itu pula saya penasaran. Apa dan bagaimana sebenarnya Linux, khususnya Ubuntu.

Saya sudah sering mendengar kata-kata berbau Linux, atau kata ‘Linux’ sendiri. Waktu itu yang muncul dibenak dan berdasarkan info yang saya dapat, Linux adalah: repot, tidak bisa menjalankan program atau software yang kita mau, sering tidak kompatibel dengan hardware, driver hardware ga bisa jalan.

Saya tidak sempat berdiskusi panjang lebar dengan istri tercinta tentang info dan hal-hal sepengetahuan saya tersebut. Waktu itu, entah kenapa saya berani aja alias nekad bermigasi ke Linux (saya pake Ubuntu ampai saat ini), mungkin karena kata-kata istri yang disertai kecupan lembutnya, “pake linux insyaAllah lebih halal lho, daripada pake windows yang bajakan, kalo punya banyak uang sih gpp beli windows asli dan dipake, tapi kalo enggak??? tujuan baik kan juga harus disertai cara dan sarana yang baik?“.  Gitu istri saya bilang (kurang lebih). Dan kejutan-kejutan akhirnya saya dapatkan.

Berbekal percobaan terhadap Ubuntu dan setelah mulai menikmatinya, saya mencoba mengajak rekan sesama peneliti di tempat saya bekerja untuk bermigrasi ke Linux. Pertanyaan dan keluhan dari mereka yang saya dapat adalah:

“lho, lha mengko iso ra nganggo MS office, trus Tune up utilities-ku ga iso dienggo?” (lho lha ntar bisa ga pake MS office, trus Tune Up Utilities-ku ga bisa dipake dong).

“Lha entar program yang kita perlukan ga bisa diinstal disitu?!”

“Loh, pake linux kan driver2 hardware ga bisa dipake??”

“ntar hardware kayak hardisk, printer dll ga bisa dipake?!?”

Ya….itulah pertanyaan dan keluhan mereka. Dan saya menemukan ada sesuatu yang salah disini. Pola pikir dan pengetahuan yang salah tentang Linux.

Yang salah dari pemikiran mereka jika diambil dari pertanyaan dan keluhan mereka adalah: mereka berpikir bahwa apapun OS-nya, harusnya semua software bisa dijalankan atau dengan kata lain, apapun software-nya bisa dijalankan di OS apapun. Hal ini salah (walaupun tidak salah kaprah), karena masing-masing OS punya kompatibilitas software sendiri. Software berbasis windows jelas sekali hanya bisa jalan di windows. Jadi memang benar kalau MS office, Tune up utilities, Photoshop, dsb tidak bisa jalan di Linux, emang mereka dibuat berbasis windows kok, (terlepas dari adanya emulator atau wine, dsb). Hal yang benar adalah, bahwa ketika migrasi ke Linux, maka harus pula migrasi software2 pendukungnya.

Jadi kalau ditanya: “lho entar ga bisa pake MS office dong, trus Tune Up utilities?”. Jawabnya: “Ya iyalah, tapi jangan khawatir di Linux ada software Open office yang bisa menggantikan MS office, kalau Tune up?!, ngapain pake tune up kalau udah pake Linux. Linux lebih stabil kok, performanya lebih Oke, ga perlu di-tune up juga udah oke.”

Trus keluhan: “ntar program yang kita butuhkan ga bisa dijalankan disitu (Linux, red.)?”, Jawabnya: “ya iyalah kalo softwarenya berbasis windows, tapi jangan khawatir, kan di Linux ada software yang memiliki kualifikasi dan kegunaan yang sama dengan yang dipake di Windows. Kalo mau photoshop, di Linux (Ubuntu yang saya tahu) ada Gimp. Pemutar CD, DVD, MP3 juga ada, jadi ga mesti pake Winamp ato windows media player tho?. Trus sekarang juga ada Wine, bisa install program berbasis windows di Wine, jika memang di Linux ga ada yang sepadan”.

Trus pertanyaan: ” lha kalo driver hardwarenya???”, jawabannya: “driver yang umumnya disediakan ketika kita beli perangkat PC, dibangun berbasis windows. Misalnya driver untuk WiFi, LAN, VGA, Chipset dll. Ya jelas kalo berbasis windows ga bisa jalan secara langsung di Linux. Tapiiiiii, di Linux ada sendiri driver untuk hardware2 itu, nyarinya bisa lewat internet, atau pake disk repository. Lagi pula, sekarang, distro2 linux sudah menyertakan secara default driver hardware”. Tentang yang ini, terakhir saya nambahkan WiFi card di laptop saya, hasilnya otomatis terdeteksi di Ubuntu Heron.

Pertanyaan: “harus selalu masuk ‘dos’-nya linux ya? (maksudnya ‘terminal’) dan ngetik-ngetik perintah untuk instal atau ngapa-ngapain?”, jawabannya: ” engggaak, itu duluuuu, windows duluuu juga gituuuu. Sekarang Linux ga selalu pake ngetik-ngetik perintah di terminal kok, buktinya Ubuntu dah pake basis grafis buat install software, udah ‘user friedly’ lah.”

Kalo ada keluhan: “kok kayaknya susah ya?, sebenernya pindah ke Linux karena takut kena razia di airport ya??”,

jawabannya: ” Mas mas, sampeyan belum mencoba kok udah bilang susah (sambil sedikit jengkel), mas,… migrasi ke Linux bukan karena takut razia, tapi karena semangat open source-nya, bebas (walau tidak selalu berarti gratis). Justru bisa ‘merekayasa’ program sesuai kebutuhan kita (kalo udah jago ilmu kompi-nya). Terbebas dari razia itu hanya efek ikutan aja, lagian bukankah kita akan lebih tenang jika kita tidak melakukan hal yang salah. Nanti, jika udah punya banyak uang, dan pengin kembali lagi ke windows, ga pa pa kok pake windows atau OS lain, tapi asli, genuine. Saya ga tahu banyak gimana menjelaskan semangat ‘open source’, tapi yang saya tahu adalah ada beberapa hal (termasuk ilmu pengetahuan, dan termasuk juga software) yang merupakan hak milik publik, yang telah menjadi milik dunia, yang kita tidak perlu membutuhkan lisensi orang atau kelompok tertentu untuk menggunakannya (walaupun tetap ada pengakuan hak cipta), sebagaimana halnya ketika kita bernafas.”

Btw, berikut ini link lain terkait migrasi ke Ubuntu:

http://www.clivecooper.co.uk/
http://www.pcmech.com/article/windows-to-ubuntu-transition-guide/
http://www.samharrelson.com/2006/12/03/why-you-should-switch-from-windows-or-mac-to-ubuntu/
http://www.pcmech.com/article/windows-to-ubuntu-transition-guide/

Actions

Information

7 responses

3 10 2008
initrunlevel0

Orang Indonesia memang baru kapok kalo suatu aturan baru dipertegas dan diperketat!! Kalo gak karena airport yang sering ngadain razia, saya tidak capek2 nginstall linux di banyak laptop temennya…. Errrgh…cape dech….. Tapi lumayan, semua temenq sudah merasa cocok dengan Linux… Ilmu Linuxq terbagi dech……………..Bravo TUX!!!

15 11 2008
setta

hmm, saya kira alasan utamanya masih berat pada kalimat yg ditulis dgn font biru itu kn?

Holmes said:

alasan-nya tidak hanya itu sebenernya, yang pake font biru itu hasil ijtihad kami. Dan alasannya lebih pada semangat free dan open source dari Linux. Semangat itu mampu memberi kesempatan bagi user untuk belajar, jadi tahu apa dan bagaimana isi sesuatu yang akan kita pakai. Tidak hanya sekedar memakai. Free (bukan berarti selalu gratis lho); ada kalanya suatu hasil adalah milik dunia, sama seperti ilmu pengetahuan.

it’s ok. i agree. though i can’t now.

mungkin ada informasi penting terkait aplikasi utk software2 design eng.(AutoCAD, SolidWork, ProEng), software CFD (Fluent dan Gambit), termasuk matlab, delphi dan VB di linux?

Holmes said:
Software yang anda sebutkan, jika dibuat berbasis windows, maka informasi yang saya punya adalah mereka tidak bisa diaplikasikan di Linux. Tolong mainframe-nya diubah; software berbasis windows untuk OS windows dan software berbasis Linux untuk OS Linux. Terus terang saya belum punya banyak informasi software yang setara dengan yang anda sebutkan yang berbasis linux (bisa digunakan di Linux), namun saya yakin mereka ada padanannya di Linux (lihat comment di bawah). Dulu saya pake photoshop, sekarang saya pakai Gimp di Ubuntu. Nah, kalo misalnya anda masih ingin menggunakan sofware berbasis windows di OS linux, anda bisa menggunakan Wine atau Cedega. Jadi singkatnya software berbasis windows tsb di instal via Wine atau Cedega. Fungsi keduanya mirip emulator (sesungguhnya bukan emulator).
Atau coba deh dual boot dulu…

18 11 2008
holmes

About ‘comment by setta’ Nov 15, 2008.
mungkin ada informasi penting terkait aplikasi utk software2 design eng.(AutoCAD, SolidWork, ProEng), software CFD (Fluent dan Gambit), termasuk matlab, delphi dan VB di linux.”

This is our explanation (based on software equivalence between Windows and Ubuntu):

AutoCAD —> there are Inkscape, XaraLX and Skencil, or Openoffice Draw for simpler drawings.

SolidWork, ProEng —> I don’t know yet.

Fluent (also for COMSOL, CFD-RC, CFD-ADAPCO) —> OpenFOAM CFD software.

Gambit —> I don’t know yet, maybe it’s similar with OpenFOAM too.

Matlab —> you can use Octave

Delphi —> you can use Lazarus

VB —> I don’t know yet.

Then, for d’ info: there is InkScape as equivalent of Corel Draw.

20 11 2008
erander

Apalagi kemaren ada iklan dari Microsoft bahwa bagi pengguna Windows bajakan akan terkena blackscreen setiap satu jam sekali sehingga akan menganggu pekerjaan :) .. tapi kalo yang menggunakan Windows asli ga perlu kawatir. Aman dan lancar.

Saya juga berpersepsi seperti itu. Takutnya Linux ga bisa baca file yang sudah terlanjur ada. Kalo buat file baru sih gpp .. misalnya ngerjain dokumen baru pake Linux, ya tentu bisa dibuka. Masalahnya .. ketika sudah disave ke Linux trus kita mau presentasi .. tapi laptop yang disediakan cuma ada windows .. gimana? tetap bisa ga?

=========================================================================

Holmes said:
File yang dimaksud file apa? office kah?
Saya tidk menngunakan semua software yang kompatible linux (karena ada banyak sekali). Yang saya gunakan adalah yang saya butuhkan saja. Tetapi bukan berarti saya masih menggunakan software berbasis windows di komputer saya.
Mengenai pertanyaan Bapak, perlu diketahui dulu bahwa setiap file disimpan sesuai dengan extensi yang disediakan software yang bersangkutan, artinya terkait langsung dengan software dan bukan dengan Operating System (OS), dalam hal ini distro2 Linux. Kaitannya dengan Linux adalah tidak langsung.
Nah, jika yang Bapak maksud adalah file office, maka kalau di Microsoft Office kita mengenal extensi .doc; .ppt; .exl; .docx; dsb, maka di salah satu software office yang kompatible Linux (misalnya Open Office) ada extensi .odt; .ods; dsb.
Mengenai Open Office; software ini bisa di install baik di Linux, Windows, Solaris maupun Macintosh. Kelebihannya Open Office mampu mengenali semua file office yang dikerjakan di MS Office (ber-extensi doc, ppt dsb). Sekaligus mampu menyimpan file yang kita kerjakan sesuai dengan di komputer mana (software mana) kita akan membukanya. Misalnya kita mengerjakan slide presentasi dengan Open Office di Linux, kita simpan kerjaan kita sebagai (save as) file berekstensi .doc. Maka file kita bisa dijalankan di komputer yang hanya ada Windows sebagai OS dan MS Office sebagai software office-nya. Open Office juga bisa mengenali file dengan type docx, dan semacamnya (yang ada di MS Office 2007). Apalagi Open Office adalah Open Source.
Mengenai Open Source lihat di:
http://www.gnu.org/philosophy/philosophy.html
http://opensource.org/docs/osd

10 02 2009
Rudy

Salam ….
Terus terang pertama kali memakai linux, saya bingung karena ada aplikasi under windows yang harus ada, tapi setelah ada wine atu semacamnya, saya merasa terbantu sekali, hingga saya memutuskan untuk beralih ke linux, apakah ada aplikasi di linux yang seperti adobe distiller, karena saya membutuhkannya untuk membuat dokumen pdf ?
Terima Kasih

10 02 2009
holmes

untuk membuat dokumen berformat PDF di linux justru sangat mudah, karena sejauh ini saya tidak perlu menggunakan tambahan software, sebagaimana di windxxs yang perlu menambahkan adobe distiller atau adobe acrobat. Di ubuntu yang saya pakai telah disediakan fasilitas print to PDF, dokumen yang kita punya (dalam bentuk pengolah kata, spreedsheet, dsb) dapat langsung dikonversi ke PDF format dengan sistem printing ini.

13 02 2009
holmes

tambahan, di ubuntu saya juga bisa melakukan editing terhadap PDF file format menggunakan PDFeditor.

Leave a comment